Rabu, 11 Oktober 2017

KIAT MEMBACA KITAB KOSONGAN


Santri, kalo ditanya “Apa yang paling bikin pusing di pondok pesantren?”, pasti mayoritas menjawab: “belajar kitab gundul”. Iya kand?. Kayaknya statement seperti ini kagak terlalu naif dech. Soalnya banyak santri yang ingin bisa baca kitab gundul dengan proses yang kagak butuh waktu lama. Kita kan tahu sendiri kalo kagak semua santri itu mondoknya lama. Saya aja cuma tiga tahun. Itupun banyak bolosnya, bandel lagi.

Ngobrolin hal kaya gini, pasti banyak yang berpikiran dan bertanya, “Gimana iya caranya bisa cepat buat mampu baca kitab gundul? Kalo bisa sich mahir juga”. Siapa aja yang punya pemikiran atau pertanyaan kaya gini berarti masih normal. Oke dech, kagak usah panjang lebar lagi. Ini saya kasih sebuah tulisan yang ada hubungannya dengan hal tadi. Tenang aja, tulisannya kagak panjang banget kox !!!


Banyak orang bilang, untuk bisa membaca kitab kosongan tidak terlalu sulit. Sebab untuk melakukan hal itu, kita cukup dengan bekal Jurumiyyah (Ilmu Nahwu), Amtsilah Tashrifiyyah (Ilmu Sharaf), dan Kamus. Kira-kira kalian percaya kagak dengan statement tadi? Percaya atau kagak, gini aja dech !!!

Gus Maksum pernah bercerita bahwa Kyai Mat Jipang, yang hanya berbekal Tashrif & Jurumiyyah, bisa membaca kitab Fath al-Wahab kosongan. Tau kagak kalau kitab Fath al-Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab karya Syekh al-Islam Abu Yahya Zakariyya al-Anshari ini jumlahnya 2 Jilid. Kalau sudah faham Jurumiyyah dan hafal tashrif, tapi belum bisa membaca kitab kosongan, tentu ada yang salah dengan sistem belajarnya.

Kyai Abdul Aziz (Pacul Gowang) punya kiat yang sangat ampuh. Kalau kiat ini dipraktekkan dalam beberapa bulan, anda akan dengan mudah membaca kitab kosongan. Anda akan senang sekali bisa muthala’ah kitab yang berpuluh-puluh jilid, misalnya tafsir Al-Razi, Tuhfah, Majmu’, atau Tarikh Al-Thabari. Anda juga bisa menyimak cerita-cerita para wali dalam kitab Hilyah al-Awliya` yang belasan jilid. Ini caranya:

1. Ikutilah pengajian kitab kecil-kecilan.
2. Coba kasih makna sendiri kitab yang akan anda pakai ngaji sebisa mungkin dengan bekal Jurumiyyah, Tashrif, dan kamus.
3. Ketika mengaji jangan dikasih makna. Tapi, simak dan cocokkanlah antara makna yang anda hasilkan sendiri dengan makna yang diberikan oleh qari` (si pembaca).
4. Jika cocok, berarti anda sudah ada kamajuan. Jika belum, jangan menyerah atau pesimis. Coba periksa lagi dan cari masalahnya kenapa makna atau tarkib anda tidak sama dengan makna yang diberikan oleh qari`.
5. Jika sudah terbiasa kasih makna dan tarkib sendiri, coba biasakan diri untuk membaca kitab kosongan tanpa ditashihkan di hadapan qari`.
6. Jika menemukan lafazh yang sulit ditarkib atau dimaknai, jangan putus asa. Tandai saja lafazh tersebut. Coba untuk berpikir positif sebelum menyerah. Mungkin lafazh tersebut termasuk kata-kata yang jarang dipakai. Atau mungkin ada kesalahan tulisan atau cetakan. Coba cocokkan dengan naskan yang lainnya.
7. Untuk lebih meyakinkan kemampuan anda, bacalah kitab-kitab kosongan dengan cara disimak oleh senior anda. Istilahnya itu metode sorogan.

Iya itu tadi metode belajarnya. Kalau dipraktekkan dengan benar, mudah-mudahan anda dalam beberapa bulan bisa menjadi kutu kitab dan kecanduan muthala’ah kitab. Berhasil atau tidaknya metode yang kita gunakan, pastinya kembali kepada diri kita masing-masing. Kita sendiri yakin atau tidak dengan kemampuan yang kita miliki. Intinya yakin aja dulu, usahakan yang terbaik, kalau memang kita pengen tujuan kita tercapai. Terima kasih !!!

Sumber: Rahasia Sukses Fuqaha` karya M Ridlwan Qayyum Said.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar