Kamis, 27 April 2017

Sekilas Tentang Basmallah



Mayoritas fuqaha, terutama mazhab asy-Syafi’I, berpendapat bahwa lafazh basmallah termasuk salah satu ayat dari surat al-Fatihah. Meskipun demikian, tetap ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Dan di sini penulis ingin memberikan sedikit gambaran menyangkut masalah khilafiyyah di kalangan ulama fiqih mengenai hal tersebut.

Pendapat Pertama:
Sebagian sahabat—seperti Abu Hurairah, Ali ibn Abu Thalib, Ibn ‘Abbas, dan Ibn ‘Umar—, tabi’in—seperti Sa’id ibn Jubair, ‘Atha`, Al-Zuhri, dan Ibn Al-Mubarak—, serta Fuqaha dan Qari Makkah—seperti Ibn Katsir—dan Kufah—seperti ‘Ashim, Al-Kisa`I, Al-Syafi’I, dan Ahmad berpendapat bahwa lafazh basmallah merupakan ayat dari setiap surat di dalam Al-Qur’an Al-Karim. 


Di antara beberapa dalil (bukti) mengenai hal tersebut ialah:
1. Kesepatakan para shahabat dan golongan setelahnya untuk menetapkan lafazh basmallah pada awal setiap surat, kecuali surat bara`ah, di dalam mushaf. Serta perintah untuk mengosong Al-Qur’an dari setiap hal yang bukan termasuk dari Al-Qur’an. Dari situ lah, mereka tidak menulis lafazh amiin pada akhir surat al-Fatihah.
2.   Beberapa hadits yang menyebutkan mengenai hal tersebut, yaitu:
a.      Riwayat Imam Muslim dari Anas ibn Malik:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أنزلت علىّ آنفا سورة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم»
Artinya:
Rasulullah saw. bersabda: “sebuah surat baru saja diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca “bismillahirrahmanirrahim”.

b.      Riwayat Imam Abu Daud dari Ibn ‘Abbas:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان لا يعرف انقضاء السورة، حتى ينزل عليه (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ)
Artinya:
Rasulullah saw. tidak mengetahui berakhirnya surat tertentu, hingga diturunkanlah “bismillahirrahmanirrahim” kepada beliau.

c.      Riwayat Imam al-Daruquthni dari Abu Hurairah:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال «إذا قرأتم الحمد لله فاقرءوا بسم الله الرّحمن الرحيم فإنها أم القرآن والسبع المثاني، وبسم الله الرّحمن الرحيم إحدى آياتها» .
Artinya:
Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: “Apabila kalian membaca alhamdulillah (maksudnya, surat al-Fatihah), maka bacalah bismillahirrahmanirrahim. Karena surat al-Fatihah adalah umm al-Qur’an dan al-Sab’u al-Matsani. Sedangkan bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayatnya.

3.   Kesepakatan kaum muslim bahwa apa yang ada di antara dua sampul itu adalah kalam Allah. Dan bismillahirrahmanirrahim ada di antara keduanya. Jadi, wajib menjadikannya bagian dari kalam Allah (Al-Qur’an)

Pendapat Kedua:
Imam Malik dan Ulama Madinah lainnya, Imam Al-Auza’I dan sekelompok ulama Syam, Abu ‘Amr dan Ya’qub dari golongan Qari` Bashrah. Yang benar—dalam perwakilannya—yaitu dari mazhab Abu Hanifah berpendapat bahwa bismillahirrahmanirrahim merupakan satu ayat dari Al-Qur’an yang diturunkan untuk menjelaskan awal surat dan memisah antara satu surat dengan surat lainnya.

Pendapat Ketiga:
Abdullah ibn Mas’ud berpendapat bahwasannya bismillahirrahmanirrahim sama sekali bukanlah termasuk Al-Qur’an. Itulah yang juga menjadi pendapat sebagian ulama madzhab Abu Hanifah. Di antara dalil mengenai hal tersebut ialah hadits dari Anas ibn Malik:

صليت خلف النبي صلّى الله عليه وسلم وأبى بكر وعمر وعثمان، وكانوا يستفتحون بالحمد لله رب العالمين لا يذكرون بسم الله الرحمن الرحيم فى أول قراءة ولا آخرها.
Artinya:
Saya (Imam Malik) pernah shalat di belakang Nabi saw., Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman. Mereka membuka (memulai) bacaan surat al-Fatihah (yakni, lafazh alhamdulillahi rabbil’alamin) tanpa menyebutkan lafazh bismillahirrahmanirrahim pada awal maupun akhir surat.

(Sumber: Tafsir Al-Maraghi Juz 1, hlm. 26-27)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar